Hutan, bagi bangsa dan negara kita merupakan sebuah mahligai keindahan bumi persada kita. Maka, tak salah banyak orang menyebut negara ini sebagai untaian zamrud hijau nan indah. Gugusan pulau-pulaunya tampak hijau dengan rimbunan hutan-hutan yang menyelimutinya. Benar-benar seperti untaian zamrud di khatulistiwa.
Ada yang mengatakan dahulu kala, negara ini penuh dengan hutan. Entah sejak kapan eksploitasi hutan untuk kepentingan makhluk Tuhan yang bernama manusia ini dimulai. Namun beberapa catatan sejarah menyimpulkan bahwa Indonesia memang penuh dengan hutan. Menurut Peta Vegetas yang pernah dirilis oleh Dinas Kehutanan Indonesia pada tahun 1950, sekitar 84 persen luas daratan Indonesia (162.290.000 hektar) masih tertutup hutan primer dan sekunder, termasuk seluruh tipe perkebunan. Dalam peta tersebut juga dituliskan luas hutan beberapa pulau yaitu, Kalimantan 51.400.000 hektar, Irian Jaya 40.700.000 hektar, seluas 37.370.000 hektar, Sulawesi seluas 17.050.000 hektar, Maluku seluas 7.300.000 hektar, Jawa 5.070.000 hektar serta Bali dan Nusa Tenggara Barat/Timur 3.400.000 hektar. Dengan hutan seluas ini, bisa dibayangkan betapa hijau ranaunya negeri kita ini. Tapi menurut World Resource Institute, 1997 sampai saat negara ini sudah kehilangan 72 % hutannya. Kemana hutan-hutan itu?
Banyak orang ketika mendengar kata pensiun saja yang terbayang adalah masa tua yang membosankan. Waktu-waktu yang terlewatkan hanya sebatas kegiatan yang itu-itu saja. Keadaan ini bisa jadi sedikit berbeda bagi mereka yang memelihara binatang peliharaan, menyibukkan dirinya dengan bercengkerama dengan hewan yang dipeliharanya seperti burung beo yang bisa menyapa tamu dengan “Assalamualaikum”, memberi makan koleksi ikan maskoki yang berlenggak-lenggok dalam aquarium di ruang tamu, ataupun menyirami kumpulan bunga gelombang cinta dan jemani yang ada di belakang rumah. Mereka yang mempunyai keluarga besar, bisa ikut momong cucu kelima yang baru lahir dua minggu yang lalu. Atau, mereka ynag punya bisnis di luaran, bisa menghabiskan waktu mengawasi karyawan yang sedang bekerja lembur. Namun, bagi mereka yang tidak “seberuntung” itu apa yang harus mereka lakukan? Menghabiskan waktu di teras rumah sambil baca koran? Bisa jadi. Menyumbangkan pikiiran dan tenaga untuk aktifitas sosial? Mungkin. Hal ini tergantung mereka bagaimana mengaturnya.
Menulis , kadang terasa begitu susah.. bercerita dalam bentuk tulisan . sulitnya minta ampun.. Banyak ide pikiran yang kita miliki tapi.. harus darimana kita memulai malah bingung..banyak bengongnya.
Perum Jasa Tirta I memiliki media komunikasi internal dengan nama Buletin Warta Jasa Tirta I, atau disingkat BWJTI yang lahir sejak puluhan tahun yang lalu. sebagai satu-satunya media internal yang dimiliki perusahaan, BWJT I memiliki beban yang luar biasa untuk bisa menunaikan tugasnya demi kepentingan internal perusahaan. Kita harus terbangun, ciptakan media komunikasi internal yang terkonsep dan tepat sasaran.
Menulis (Jurnalistik/Ilmiah) bagi sebagian orang merupakan pekerjaan yang membosankan, namun tidak demikian bagi orang yang suka menulis. Saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Pelatihan Jurnalistik Media/Instansi & Perusahaan yang diselenggarakan oleh Immedia Profesional pada tanggal 23-25 Juli 2008 di Grand Preanger Hotel, Bandung-Jawa Barat. Berikut ringkasan sebagian kecil materi pelatihan yang penulis sampaikan dengan gaya bercerita subjek "saya"